Tradition & Culture
Pesona Rejang Bali
Ritual, Keindahan, dan Spirit Galungan–Kuningan
Sebagai fotografer, saya selalu terpikat oleh Rejang Bali—tarian sakral yang memadukan keanggunan gerak dengan kedalaman spiritual. Setiap langkah yang mengalun pelan terasa seperti pesan tentang kehidupan, harmoni, dan penghormatan kepada alam semesta.
Hiasan kepala Rejang adalah elemen yang paling memikat mata: rangkaian janur, gumitir, kenanga, daun hijau segar, hingga butiran bunga dan perhiasan yang tersusun rapi. Semuanya bukan sekadar estetika, tetapi bahasa simbolis tentang keindahan, kesucian, dan identitas budaya.
Di Karangasem, setiap desa memiliki ciri dan bentuk yang berbeda—seolah tiap penari membawa jejak sejarah dan tradisi lokal pada puncak kepalanya.
Pada perayaan Galungan dan Kuningan, Rejang tampil sebagai jembatan antara yang kasatmata dan yang tak terlihat. Gerak lembut mereka menjadi doa yang hidup, tentang kemenangan dharma atas adharma, penghormatan kepada leluhur, serta syukur kepada para dewa.
Bagi saya, memotret momen ini seperti merekam waktu yang berhenti sejenak. Saat para penari bergerak anggun dalam barisan, saya merasa sedang menangkap sesuatu yang tidak hanya terlihat, tetapi juga terasa—keindahan yang bernapas, tradisi yang tetap tumbuh, dan budaya yang terus hidup melalui generasi baru.
