Ketoprak Tobong

Human

Ketoprak Tobong

Warisan Abadi di Tengah Arus Zaman

Sebagai fotografer, saya selalu percaya bahwa cahaya punya bahasa sendiri. Dan di Ketoprak Tobong—dengan panggung sederhana, cahaya berbicara lebih jujur daripada di tempat mana pun.

Ketika lampu temaram dinyalakan, panggung kecil itu berubah menjadi ruang waktu. Bayangan para pemain bergerak perlahan, seakan menghidupkan cerita yang sudah berusia ratusan tahun. Setiap langkah, setiap lirih suara mereka, membuat saya menahan napas—takut melewatkan detik yang memiliki makna.

Lalu perhatian saya selalu jatuh pada Mas Didik. Di usianya yang 62 tahun, ia berdiri dengan ketenangan yang tidak bisa direkayasa. Ada sejarah panjang di garis wajahnya, ada dedikasi yang seakan terpahat dalam caranya memandang panggung. Memotret Mas Didik bukan hanya memotret sosok; itu seperti menangkap nyala kecil yang menjaga tradisi tetap hidup.

Di balik lensa, saya melihat sesuatu yang jarang: seni yang tidak dibuat untuk sorotan, tetapi untuk diteruskan. Ketoprak Tobong mengingatkan saya bahwa fotografi bukan hanya soal gambar—tetapi soal menyimpan perasaan. Dan setiap klik kamera saya adalah upaya kecil untuk merawat apa yang mereka jaga dengan sepenuh hati.

Di tempat yang sederhana ini, budaya bernafas pelan. Lembut. Hangat.

Dan saya merasa beruntung bisa menjadi saksi, dan membawa pulang cahaya dari panggung kecil itu.