Pukul 04.30 pagi saya berangkat menuju Desa Lelea. Desa masih sunyi ketika persiapan Ngarot telah dimulai. Para perias mendandani pengantin dengan hiasan kepala bunga kenanga; aromanya mengisi ruangan, menghadirkan suasana hangat dan sakral. Di keheningan pagi itu, Ngarot terasa paling dekat—sederhana, namun penuh makna.
Usai dirias, para pengantin Ngarot menuju balai desa. Waktu menunggu arak-arakan diisi obrolan ringan dan kebersamaan. Ngarot mensyaratkan kesucian para gadis yang mengikutinya; sebuah kepercayaan turun-temurun menyebutkan bunga kenanga akan layu bila dikenakan oleh mereka yang telah kehilangan kesuciannya.
Sayangnya, cuaca tak berpihak. Hujan deras turun sejak pagi, memaksa pelaksanaan acara diundur. Waktu tunggu yang ditetapkan berlalu, namun hujan tak juga reda. Hingga akhirnya, kepala desa memberi instruksi agar kirap tetap dijalankan. Para pengantin Ngarot pun melangkah menunaikan perannya—didampingi keluarga, berpayung di bawah hujan, tetap setia pada tradisi yang tak boleh terhenti.
Dalam hati, saya bertekad untuk kembali datang tahun depan. Kali ini, saya ingin mengikuti seluruh rangkaian Ngarot secara lengkap—menyusuri setiap tahapannya dari awal hingga akhir. Sebab pada kunjungan kali ini, meski hanya sepenggal yang sempat tersaksikan, kesannya telah tertanam begitu dalam.

